23 April 2026 · 3 min read
Raden Ajeng Kartini adalah nama yang tak lekang oleh waktu. Ia dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi, sosok yang berjuang keras melawan tradisi yang membatasi dan menuntut hak untuk bersekolah. Bagi Kartini, ilmu pengetahuan adalah cahaya yang mampu menerangi jalan menuju kesetaraan dan kemajuan. Ia percaya bahwa hanya dengan pendidikan, seorang perempuan bisa mandiri dan berkontribusi bagi bangsa.
Namun, jika Kartini bisa melihat kondisi saat ini, mungkin ia akan merasa bangga sekaligus prihatin.
Dahulu, Kartini harus berjuang mati-matian hanya untuk bisa membaca buku dan berkorespondensi dengan teman-temannya di Belanda. Surat demi surat ia tulis dengan pena dan kertas, menunggu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan untuk mendapat balasan.
Kini, generasi muda memiliki "kunci" yang jauh lebih hebat: Teknologi. Internet, smartphone, dan komputer adalah jendela dunia yang terbuka lebar. Segala informasi ada di ujung jari. Buku-buku ilmu pengetahuan bisa diakses dalam hitungan detik. Kita tidak perlu lagi berjuang sekeras Kartini hanya untuk mendapatkan ilmu.
Ironisnya, kemudahan luar biasa ini justru sering kali disalahgunakan. Banyak anak muda zaman sekarang yang memegang teknologi canggih, namun menggunakannya hanya untuk kesenangan semata.
Alih-alih membuka situs edukasi, menambah wawasan, atau belajar keterampilan baru, waktu lebih banyak dihabiskan untuk scrolling media sosial tanpa tujuan, bermain game berlebihan, atau menonton konten hiburan yang tidak menambah nilai diri. Layar kaca yang seharusnya menjadi jendela ilmu, malah berubah menjadi "dinding" yang mengisolasi kita dari perkembangan nyata dan pemikiran kritis.
Padahal, alat yang kita pegang hari ini adalah impian terbesar dari para pendahulu kita, termasuk Kartini, untuk mempercepat kemajuan bangsa.
Lantas, apa yang harus kita lakukan?
Menghormati Kartini bukan hanya sekadar mengenakan kebaya pada tanggal 21 April, atau sekadar mengunggah foto di media sosial. Menghormati Kartini berarti meneladani semangatnya.
Kartini haus akan ilmu, maka kita pun harus haus akan ilmu. Bedanya, Kartini mencari ilmu di tengah keterbatasan, sedangkan kita harus mencari ilmu di tengah kemudahan dan godaan teknologi.
Gunakanlah gawai pintar Anda bukan hanya sebagai alat hiburan, tapi sebagai alat perjuangan. Pelajari hal baru, kembangkan bakat, dan gunakan media sosial untuk menyebarkan hal positif dan pengetahuan. Jangan biarkan teknologi membuat kita menjadi generasi yang "pintar alat tapi miskin ilmu".
Mari jadikan teknologi sebagai pelita, bukan sebagai penidur kesadaran. Karena kemerdekaan berpikir yang diperjuangkan Kartini akan sia-sia jika kita justru menjadi budak dari gawai kita sendiri.
SDIT Al Hamidiyyah Bojonggede Merupakan sekolah dasar yang mengimplementasikan Konsep Pendidikan Islam berdasarkan Al Qur'an dan Sunnah, SDIT Al Hamidiyyah Bojonggede menyelenggarakan pendidikan dengan memadukan kurikulum Kemendiknas dengan Pendidikan Agama dalam pembelajaran sehari-hari sehingga dapat mengoptimalkan ranah Kognitif, Afektif dan Psikomotorik
| Hari Ini | : 108 Pengunjung |
| Kemarin | : 165 Pengunjung |
| Minggu Ini | : 687 Pengunjung |
| Bulan Ini | : 5251 Pengunjung |
© tksditalhamidiyyahbojonggede.com. All Rights Reserved. Developer by SEVENLIGHT.ID